5 Proses Terjadinya Hujan Beserta Penjelasannya

Saat angin berhembus semilir, langit yang menjadi gelap oleh awan yang berwarna abu-abu kehitaman dan semakin pekat, terdengar suara gemuruh dari langit, Anda berpikir bahwa hari akan segera turun hujan. Apakah menurut Anda proses terjadinya hujan hanya sesederhana itu saja?

Nyatanya tidak sepenuhnya benar karena terdapat beberapa tahapan sebelum akhirnya titik-titik air tersebut mengguyur permukaan bumi.

Terletak di garis ekuator, Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki iklim tropis dengan 2 musim yang terjadi bergantian sepanjang tahunnya. Kedua musim tersebut adalam musim kemarau dan musim hujan.

Periode musim kemarau biasanya terjadi di bulan April sampai bulan September sementara musim penghujan terjadi sepanjang Oktober sampai Maret. Ketika memasuki musim penghujan, maka cuaca hujan bisa terjadi sewaktu-waktu.

Sering kita mendengar pertanyaan seputar Bagaimana proses terjadinya hujan di permukaan bumi jelaskan?

Tahapan dalam Proses Terjadinya Hujan

Gambar Awan Cumulonimbus Yang Menandakan Akan Terjadi Hujan
Gambar Awan Cumulonimbus Yang Menandakan Akan Terjadi Hujan

Proses terjadinya hujan sendiri merupakan bagian dari siklus hidrologi atau dikenal dengan siklus perputaran air. Siklus ini merupakan proses dimana air menguap dari permukaan bumi menuju atmosfer lalu kembali lagi ke permukkaan bumi. Proses ini terjadi secara berkelanjutan dan berlangsung tanpa henti.

Siklus ini menjadi salah satu bukti dari kemampuan Bumi untuk mendaur ulang dirinya sendiri dan terjadi melalui 3 tahapan utama diantaranya evaporasi,kondensasi dan presipitasi.

1. Proses Terjadinya Hujan Tahap Evaporasi (Penguapan)

Tahapan pertama yang mengawali proses terjadinya hujan adalah evaporasi dimana energi panas dari paparan sinar matahari terhadap air yang ada di laut, sungai, danau dan sumber air lain yang ada di permukaan bumi lainnya mengalami penguapan. Evaporasi adalah proses perubahan air awalnya berwujud cair berubah menjadi wujud gas menjadi uap air (vapor).

Dengan bentuk gas tersebut, air pun dapat naik ke atmosfer bumi. Makin tinggi panas dari paparan sinar matahari yang mengenai air permukaan bumi, maka semakin besar pula volume uap air yang berkonsentrasi di atmosfer.

2. Proses Terjadinya Hujan Tahap Kondensasi (Pengembunan)

Uap air yang terus naik ke atmosfer akan mengalami pengembunan pada ketinggian tertentu. Proses pengembunan (kondensasi) ini terjadi ketika uap air berubah menjadi partikel es yang ukurannya begitu kecil karena dipengaruhi oleh suhu udara yang sangat rendah.

Seperti yang bisa Anda lihat pada puncak gunung yang diselimuti es karena suhu di pincak gunung tersebut sangat tinggi. Selanjutnya partikel-partikel es yang telah terbentuk ini akan saling berdekatan satu sama lain hingga terbentuklah awan.

Makin banyak jumlah partikel yang bergabung, maka awan yang terbentuk pun menjadi semakin pekat. Kepekatan tersebut juga membuat cahaya tidak dapat menembus awan sehingga terkesan gelap jika dilihat dari permukaan bumi.

Proses bergabungnya antar partikel es maupun titik-titik air menjadi bentuk awan ini merupakan proses koalesensi. Dalam tahapan ini, es dan bulir air memiliki ukuran jari-jari 5-20 mm namun dapat tetap bertahan di atmosfer.

Sebenarnya butiran tersebut jatuh dengan kecepatan 0,01-5 cm/detik, namun kecepatan aliran udara ke atas masih lebih tinggi sehingga butiran air tetap tertahan di atmosfer.

3. Proses Terjadinya Hujan Tahap Presipitasi (Pengendapan)

Tahapan berikutnya proses terjadinya hujan bernama presipitasi dimana dalam proses ini air jatuh ke permukaan bumi. Awan mencair sebagai akibat dari suhu udara yang semakin dingin atau jumlah uap air yang bergabung sudah terlalu besar.

Baca   15 Kerajinan dari Bambu untuk Mempercantik Rumah

Hujan sendiri merupakan salah satu bentuk dari presipitasi ini dimana uap air yang sangat pekat kemudian mengalami kondensasi hingga akhirnya bulira air tersebut berjatuhan.

Awan yang terbentuk lalu tertiup angin hingga berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Proses ini dinamakan dengan adveksi dimana awan bergerak secara horizontal dari satu titik menuju titik lainnya yang dikarenakan oleh arus angin maupun perbedaan tekanan udara.

Proses inilah yang membuat awan bisa menyebar dan berpindah dari wilayah lautan ke daratan. Seiring dengan perpindahannya tersebut, awan-awan menjadi semakin besar ukurannya lantaran terus menyatu bersama awan lain yang ada di jalurnya.

Bulir es dan air yang sudah terlalu berat dan tidak dapat disangga oleh arus naik akan jatuh akibat gravitasi bumi dan akhirnya berjatuhan ke permukaan bumi sebagai hujan.

Namun, yang perlu diketahui bahwa tidak selalu butiran air dan es ini bisa mencapai ke permukaan karena ia harus melintasi lapisan udara hangat yang bisa membuatnya menguap kembali atau mencair dari wujud es-nya.

Jika suhu udara tempat terjadinya proses presipitasi terlalu rendah, memungkinkan terjadinya hujan salju. Awan dengan kandungan uap air yang pekat akan turun menuju litosfer berbentuk butir salju tipis seperti yang Anda lihat pada daerah dengan iklim sub tropis.

Jenis Awan yang Mempengaruhi Penyebab Hujan

Gambar Awan Gelap Penanda Hujan Akan Turun
Gambar Awan Gelap Penanda Hujan Akan Turun

Awan merupakan salah satu indikator utama terjadinya hujan. Perlu diketahui bahwa terdapat 2 jenis awan yang dapat menjadi penyebab turunnya hujan. Kedua jenis awan tersebut adalah awan dingin dan awan hangat.

Kedua jenis awan ini dapat menghasilkan hujan yang berbeda pula. Berikut penjelasannya

1. Proses Terjadinya Hujan dari Awan Hangat

Proses terbentuknya hujan yang berasal dari awan hangat dimulai dari naiknya uap air dari permukaan bumi menuju atmosfer (evaporasi) akibat dari terpanaskan oleh sinar matahari. Setelah uap air berada pada ketinggian yang cukup tinggi, terjadilah proses kondensasi dimana uap berubah menjadi embun.

Embun tersebut tidak langsung jatuh ke permukaan bumi dan terus melayang di atmosfer. Seiring uap air yang yang mengembun semakin banyak, maka mereka akan membentuk awan pekat dan gelap. Saat ukuran embun yang saling mengikat satu sama lain semakin besar, ia akan mulai tertarik oleh gravitasi dan jatuh ke permukaan bumi.

2. Proses Terjadinya Hujan dari Awan Dingin

Proses ini terjadi karena uap air yang terkumpul di langit berada pada ketinggian ataupun area yang sangat dingin sehingga berubah menjadi titik-titik es. Konsentrasi dari kristal es tersebut akan menjadi awan yang semakin lama semakin pekat dan besar.

Ketika kristal es dalam awan tersebut saling bergabung satu sama lain, maka akan memicu beban yang semakin berat hingga akhirnya tertarik oleh gravitasi bumi. Kristal-kristal es tersebut selanjutnya akan berjatuhan sebagai hujan salju.

Hujan salju dan butiran es ini bisa saja diturunkan di lokasi yang hangat ataupun dingin. Saat jatuh di area dengan suhu yang hangat, maka salju akan mencair dan turun sebagai hujan biasa. Namun jika jatuh di tempat dengan suhu yang tidak cukup hangat, maka salju atau es akan jatuh sebagaimana adanya.

Mengenal Bentuk Hujan

Gambar Hujan Petir Yang Tampak Dibalik Kaca
Gambar Hujan Petir Yang Tampak Dibalik Kaca

Selain halnya berbagai proses terjadinya hujan yang ternyata berbeda-beda, hujan juga memiliki bentuk yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia.

Perbedaan bentuk hujan ini perlu untuk diketahui mengingat manusia dituntut sanggup beradaptasi dan mengatasi berbagai dampak yang ditimbulkan. Nah, bentuk hujan yang dikenal di berbagai kawasan diantaranya;

1. Hujan Gerimis

Hujan gerimis juga dikenal dengan sebutan hujan rintik-rintik merupakan hujan yang menjatuhkan air dengan ukuran butiran air berdiameter kurang dari 0,5 mm. Dengan ukuran butir air yang tidak terlalu besar, maka air yang jatuh ke permukaan bumi pun tidak terlalu deras dengan volume air yang tidak terlalu besar.

Baca   Pengaruh Letak Geografis Indonesia dari berbagai Aspek

Proses terjadinya hujan hujan ini dihasilkan dari awan yang tidak terlalu tinggi posisinya di atmosfer dan cenderung lebih dekat dengan permukaan bumi.

2. Hujan Deras

Hujan deras merupakan proses terjadinya hujan dengan partikel air yang jatuh dengan kecepatan yang lebih tinggi karena butiran air yang jatuh memiliki diameter di atas 7,0 mm. Tetesan dari hujan deras ini umumnya dibentuk dari awan yang memiliki ketebalan hingga beberapa kilometer dan cukup tinggi  di atmosfer.

Jatuhan hujan yang paling tinggi misalnya, dihasilkan oleh awan jenis Cumulus dengan ketinggian mencapai 10 kilometer atau bahkan lebih yang memiliki arus udara naik sangat kuat di dalamnya. Hujan deras dalam waktu yang cukup lama dapat mengakibatkan banjir.

3. Hujan Salju

Hujan salju merupakan proses terjadinya hujan yang menjatuhkan kristal es yang memiliki suhu di bawah 0° Celcius. Bentuk dari kristal es ini terlihat memiliki cabang-cabang yang terkadang memiliki bentuk  menyerupai bintang ataupun heksagonal.

Kristal es ini kemudian disebut sebagai kepingan salju. Ada pula kristal es yang memiliki bentuk seperti jarum, butiran dan lempengan atau prisma es. Hujan salju yang berkepanjangan dapat mengubur apapun yang berada di areanya. Selain itu ia juga membuat permukaan aspal menjadi licin.

4. Hujan Es

Hujan es merupakan hujan yang menjatuhkan butiran es dengan ukuran yang beragam mulai dari seukuran batu kerikil hingga sebesar bola tenis. Beberapa kalangan masyarakat ada yang menamakannya dengan hujan batu. Hujan es ini memiliki ancaman yang lebih nyata dibanding ketiga hujan di atas karena sifat destruktifnya yang seketika.

Proses terjadinya hujan ini terjadi lantaran naiknya uap air dalam jumlah besar secara vertikal sehingga cepat mencapai ketinggian beku. Ketika uap air mencapai ketinggian beku, ia akan berkonsentrasi membentuk kristal es.

Saat es semakin berat, ia akan meluncur ke lapisan di bawahnya. Ketika suhu lapisan di bawahnya tak cukup hangat, ia akan tetap berjatuhan sebagai kristal-kristal es denan berbagai ukuran.

5. Hujan Asam

Hujan asam merupakan bentuk hujan yang paling berbahaya meskipun wujudnya menyerupai hujan deras. Ancaman datang dari kandungan air hujan tersebut yang berisi polutan dari pencemaran udara akibat konsentrasi asap di udara maupun efek rumah kaca. Kedua hal ini memicu endapan asam di awan dalam volume yang cukup tinggi dan dapat merusak apapun yang diguyurnya.

Kerusakan ini ditimbulkan dari kandungan asam dalam air hujan yang terkontaminasi oleh zat kimia berbahaya misalnya oksida sulfur serta oksida nitrogen yang mayoritas bersumber dari asap pabrik dan industri.

Zat kimia berbahaya yang mengendap sebagai awan di langit ini akan dikembalikan dan diratakan ke permukaan bumi sebagai air hujan. Kerusakan yang mungkin dihadapi bumi antara lain

  • Ikan di lautan, danau maupun sungai yang mati
  • Kerusakan hutan
  • Gangguan pernafasan manusia
  • Bau tidak sedap di lingkungan
  • Efek rumah kaca
  • Terancamnya keseimbangan lingkungan hidup

Mengenal Jenis Hujan Berdasarkan Proses Terjadinya Hujan Beserta Gambarnya

Gambar Ilustrasi Proses Terjadinya Hujan
Gambar Ilustrasi Proses Terjadinya Hujan

Setelah membahas tentang tahapan dalam proses terjadinya hujan dan bentuknya, maka tak ada salahnya untuk membahas tentang jenis-jenis hujan yang dikenal berdasar faktor penyebabnya. Setidaknya ada 4 jenis hujan yang umum terjadi di langit Indonesia, antara lain hujan frontal, hujan orografis, hujan zenith dan hujan buatan. Berikut penjelasannya;

1. Proses Terjadinya Hujan Frontal

Yang dimaksud dengan hujan frontal merupakan hujan yang dipicu dari udara yang hangat dengan massa yang lebih ringan. Hujan ini berada pada posisi di atas lapisan udara yang cenderung suhunya lebih dingin. Udara panas cenderung naik sementara udara dingin cenderung turun.

Udara panas tersebut akan mengembang lalu mendingin dan menciptakan bulir-bulir air di dalamnya. Saat sudah cukup pekat, bulir air akan mengembun membentuk tetesan air dan memiliki suhu yang lebih dingin.

Baca   Ciri-ciri Planet, Anggota Tata Surya dengan Keunikannya

Saat bulir air mencapai  tingkat konsentrasi tertentu, ia akan jatuh ke permukaan bumi dan proses terjadinya hujan ini disebut dengan hujan frontal.

2. Proses Terjadinya Hujan Orografis

Yang kedua adalah Hujan orografis dimana proses terjadinya hujan terjadi pada kawasan dataran tinggi misalnya puncak gunung maupun pegunungan. Hujan orografis dipicu oleh udara dengan kandungan uap air yang seakan dihembuskan mendaki gunung menembus lereng sehingga mencapai posisi lebih tinggi.

Dalam prosesnya, udara akan mengalami pendinginan yang kemudian mengalami pengembunan (kondensasi).  Embun yang semakin banyak akan berubah menjadi titik air yang dan kemudian berkonsentrasi menjadi awan hujan.

Ketika jumlah titik air sudah terlalu pekat,awan pun tidak sanggup mempertahankannya sehingga turunlah hujan di daerah lereng gunung. Karena letaknya yang demikian, awan pun bergerak secara horizontal dimana angin bertiup menuju arah puncak pegunungan membuat hujan cenderung hanya berpusat di bagian lereng gunung ataupun puncak saja.

3. Proses Terjadinya Hujan Zenithal

Jenis hujan zenithal atau dikenal dengan hujan konveksi  merupakan salah satu proses terjadinya hujan yang unik sebab terjadi di siang hari saat suhu udara cukup panas. Bahkan, hujan ini juga sering terjadi di tengah hari saat cuaca begitu panas menyengat.

Panas yang tinggi membuat air di permukaan bumi lainnya menguap lebih cepat dan lebih banyak dibanding saat cuaca sekedar cerah. Uap air dalam jumlah signifikan ini akan naik secara vertikal menuju atmosfer dengan sangat cepat karena perbedaan suhu yang signifikan.

Jumlah uap air yang begitu masif dan aktif fi antomsfer tersebut akan mengalami pendinginan dan pengembunan seperti biasanya. Bedanya, dengan jumlah yang besar dan waktu yang singkat, hujan yang turun akan lebih deras dan durasinya cenderung singkat.

Perbedaan suhu yang signifikan umumnya juga memicu pergerakan udara dalam jumlah besar sehingga hujan deras tersebut umumnya juga diiringi oleh angin kencang.

4. Proses Terjadinya Hujan Buatan

Hujan buatan merupakan salah satu dari jenis proses terjadinya hujan yang juga bisa terjadi pada berbagai lokasi. Seperti dengan namanya, hujan ini merupakan hujan yang dibuat atau direkayasa oleh manusia.

Untuk menciptakan hujan, manusia menggunakan bahan tertentu yang ditabur di langit menggunakan pesawat terbang pada ketinggian tertentu. Hujan buatan ini biasanya dilakukan demi menanggulangi bahaya kemarau panjang di area tertentu.

Di Tanah Air, hujan buatan merupakan menjadi salah satu dari kegiatan rutin pihak BMKG ketika kondisi cuaca di wilayah Indonesia cenderung terlalu kering, panas sementara hujan alami tak kunjung turun hingga berbulan-bulan. Saat ini, proses rekayasa hujan buatan ini dilakukan dengan cara menaburkan bahan kimia dan bahan pendingin lain di kepulan awan.

Bahan kimia serta bahan pendingin tersebut akan mempercepat proses terbentuknya awan berikut proses pendinginannya. Menggunakan bahan khusus ini, awan panas dapat dirubah menjadi awan dingin seketika agar memiliki kandungan embun serta kristal es. Dengan demikian hujan pun bisa turun sesuai intensitas yang diharapkan.

Demikian penjelasan tentang tahapan hujan serta berbagai macam hal yang berkaitan dengan hujan. Hujan masih merupakan salah satu dari fenomena alam yang umum terjadi dan sifatnya wajar.

Manusia sudah lama berradaptasi dan memanfaatkan kondisi cuaca ini meskipun belakangan berbagai tindakan manusia justru membuat perubahan yang berpengaruh terhadap alam.

Manusia harus menjaga kestabilan lingkungan, utamanya kelestarian hutan dan sungai agar hujan yang turun tidak berujung pada musibah. Selain itu, polutan juga perlu ditekan agar pencemaran lingkungan tidak semakin menyebar oleh sebaran hujan.

Leave a Comment