10 Macam Pola Aliran Sungai Beserta Fungsi dan Keterangannya

Gambar Sungai Kahayan Di Kalimantan TengahHidup di Indonesia, Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan yang namanya sungai. Diketahui, sungai memiliki berbagai pola aliran sungai yang bentuknya beragam. Selain itu,sungai juga menjadi salah satu media penampungan air di dalam siklus hidrologi.

Sungai menawarkan berbagai manfaat bagi kehidupan berbagai macam makhluk hidup. Manusia sendiri memanfaatkan sungai sebagai sumber air, mengairi lahan pertanian mereka, sebagai saluran pembuangan, bahkan hingga menjadi objek wisata.

Mengenal Sungai dan Bagaimana Proses Terjadinya

Gambar Sungai Di Indonesia Dilihat Dari Udara
Gambar Sungai Di Indonesia Dilihat Dari Udara

Air yang ada di permukaan tanah biasanya berasal dari air hujan, sumber mata air maupun air dari gletser yang mencair dan mengalir di saluran ke tempat yang tempatnya lebih rendah. Awalnya saluran ini ukurannya kecil dan sempit.

Hingga kemudian aliran air tersebut mengikis apapun yang dilaluinya. Sehingga kelamaan saluran tersebut semakin lebar dan memanjang yang kemudian menjadi sungai.

Berbagai material yang terkikis seperti halnya batuan terbawa oleh air dan diendapkan ke tempat selanjutnya. Volume endapan material batuan yang terkikis sangat dipengaruhi kekuatan aliran sungai, kekerasan batu yang dilalui serta macam vegetasi yang berada di sekitar aliran sungai.

Kekuatan aliran air sungai sendiri ditentukan faktor seperti halnya besar kecilnya aliran air serta kemiringan lereng. Aliran sungai sendiri ada yang bisa mencapai hingga ke laut, danau ataupun ke sungai induk (sungkai yang lebih besar).

Namun ternyata, ada pula aliran sungai yang tidak bisa mencapai salah satu dari ketiga tempat tersebut melainkan mengairi suatu daerah kering. Di area ini, air sungai pun lantas meresap ke dalam tanah atau disebut sebagai sungai mati.

Sifat Sungai di Indonesia

Gambar Sungai Kahayan Di Kalimantan Tengah
Gambar Sungai Kahayan Di Kalimantan Tengah

Sungai yang ada di Indonesia ternyata memiliki sifat yang sedikit berbeda dari sungai di negara lain, perbedaan tersebut antara lain;

Sungai hujan, dimana volume air yang mengaliri sungai pada musim penghujan cenderung lebih besar dibanding aliran pada musim kemarau.

Enderung mengandung lebih banyak lumpur sebab mengalir di kawasan tropis yang memiliki curah hujan lebih tinggi.

Sungai yang ada di pulau Jawa cenderung memiliki aliran yang deras. Alasannya karena ukuran sungai yang cenderung pendek, biasanya memiliki daya erosi yang besar. Karena hal tersebut,tentunya sungai tersebut tidak cocok untuk digunakan untuk lalu lintas air.

Sungai yang mengalir di Pulau Sumatera dan Kalimantan terdiri atas sungai-sungai yang panjang dengan aliran air yang cenderung tenang, daya erosinya kecil serta bagian muara sungai yang menyerupai corong (estuarium).

Jenis-Jenis Sungai

Gambar Sungai Memberano Di Papua
Gambar Sungai Memberano Di Papua

Untuk mempermudah mempelajari sungai, maka aliran air ini dibeda-bedakan berdasar beberapa kategori, diantaranya

Berdasarkan Sumber Air

  • Gletser; sungai yang sumber airnya berasal dari salju yang telah mencair seperti bagian hulu dari Sungai Memberamo (Irian Jaya).
  • Hujan; sungai yang hanya mendapatkan air dari hujan seperti yang terjadi pada sebagian besar sungai yang ada di Indonesia.
  • Campuran; adalah sungai gletser yang kemudian aliran airnya bercampur dengan air hujan misalnya di bagian hilir dari Sungai Memberamo dengan Sungai Digul.

Berdasar Kesinambungan Aliran Air

  • Episodik; Merupakan sungai yang aliran airnya terus mengalir tanpa henti, tidak tergantung pada musim. Contohnya adalah sungai-sungai di pulau Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya (Papua).
  • Periodik; sungai yang aliran airnya sangat dipengaruhi oleh musim, dimana sungai hanya akan memiliki air yang deras di musim penghujan sementara di musim kemarau aliran cenderung kecil atau bahkan kering seperti sungai yang ada di pulau Jawa ataupun Nusa Tenggara.

Berdasar Struktur Lapisan Batuan di Dasarnya

Sungai Konsekuen; sungai yang aliran airnya searah dengan kemiringan batuan di area yang dilaluinya.

  • Subsekuen; sungai ini memiliki struktur aliran dimana alirannya berbentuk tegak lurus terhadap sungai konsekuen.
  • Obsekuen; sungai yang aliran airnya berlawanan terhadap kemiringan lapisan batuan di areanya, disebut juga anak sungai Subsekuen.
  • Resekuen; sungai yang mengalir ke bawah dengan arah yang sama dengan sungai konsekuen asli.
  • Anteseden; sungai yang bisa mengimbangi pengangkatan di area yang ia lalui dimana ketika terjadi suatu pengangkatan, maka sungai ini selalu akan mengikisnya hingga habis.
  • Superimposed; sungai yang mengalir pada batuan kristalin, batuan sedimen yang mendatar maupun di atas batuan aluvial.
  • Anaklinal; sungai anteseden yang mengalir pada permukaan lalu diangkat secara miring berlawanan dari arah alirannya.
  • Reserved; sungai anaklinal yang telah berubah arah alirannya atau bahkan berlawanan jika dibanding dengan kondisinya semula.
  • Epirogenesa; sungai yang secara terus-menerus mengikis batuan yang dilewatinya hingga menembus batuan induk dari daerah yang dilintasinya.
Baca   Pengertian Sumber Daya Alam Berserta Jenis, Dampak, Dan Contohnya

Berdasar Pola Aliran Sungai

Ternyata sungai tidak sekedar mengalir ke tempat yang rendah secara tidak beraturan. Pengamatan secara lebih detail menghasilkan berbagai bentuk aliran sungai yang kemudian dapat dibagi menjadi  beberapa macam. Sungai sendiri merupakan persebaran air yang terjadi pada sebuah daerah dan cenderung berbeda di daerah lain.

Sangat jarang atau bahkan tidak ada satupun sungai yang mempunyai bentuk yang benar-benar sama. Sungai bisa terbentuk menyesuaikan dengan karaktersitik yang menunjang terjadinya pembentukan pola aliran air di dalamnya. Ilmu hidrologi mempelajari pola yang dibentuk oleh aliran sungai. Sebelum membahas apa saja pola tersebut, mari kita bahas tentang pengertiannya.

Pengertian Pola Aliran Sungai

Gambar Pola Aliran Sungai Tampak Dari Udara
Gambar Pola Aliran Sungai Tampak Dari Udara

Pola aliran sungai adalah suatu sistem jaringan sungai yang kemudian secara utuh membentuk cabang di setiap daerah aliran. Bentuk dari aliran sungai bermacam-macam dimana masing-masing pola memiliki keunikannya sendiri. Ada beberapa faktor yang menentukan pola lairan sungai, diantaranya

Faktor yang Mempengaruhi Pola Aliran Sungai

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pola aliran sungai pada suatu wilayah diantaranya;

Kemiringan Lereng

Kemiringan lereng yang menjadi tempat mengalirnya sungai memberikan pengaruh pada pola aliran sungai dimana makin curam sebuah lereng, maka aliran sungai cenderung menjadi tidak beraturan. Dan sebaliknya, ketika lereng tersebut dangkal maka pola aliran cenderung lebih teratur.

Jenis Batuan

Batuan, meskipun berupa benda yang padat dan solid dapat dikikis dan dihacurkan oleh aliran air yang secara konsisten mengenainya. Begitu pula dengan batuan yang ada di bagian dasar sungai.

Kemudian, bebatuan yang dilewati oleh air dari sumber air, seiring waktu akan terkikis hingga membentuk pola sungai. Sementara cekungan yang banyak menerima sedimen, akan menjadi sungai yang lebih dangkal. Inilah yang kemudian mempengaruhi tingkat kedalaman sebuah sungai.

Struktur Batuan

Jenis batuan dapat mempengaruhi bagian dasar sungai, sementara struktur batuan akan mempengaruhi bentuk pola aliran sungai di bagian permukaan. Makin kompleks struktur batuan di permukaan sungai (tepian), maka semakin teratur pula alirannya.

Struktur batuan yang ada di permukaan sungai dapat menunjang kesuburan tanah di sekitaran Daerah Aliran Sungai melalui tanah alluvial yang dibawanya.

Lempeng Tektonik

Faktor yang mempengaruhi perbedaan pola aliran berikutnya adalah gerakan tektonik lempeng perut bumi yang juga sangat mempengaruhi penampakan alam di kerak bumi. Jadi pergerakan tektonik tak hanya mempengaruhi bagian daratan saja, melainkan juga bentuk pola.

Gerakan ini bisa saja berakibat buruk terhadap pola aliran sungai lantaran terjadinya penyumbatan sungai di bagian hulu.

Geologi dan Morfologi DAS

Geologi merupakan ilmu yang mempelajari pembentukan permukaan bumi berdasar pada struktur pembentukannya. Sementara morfologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang terbentuknya muka bumi dari proses pembentukannya.

Daerah Aliran Sungai (DAS) akan sangat menentukan seperti apa aliran sungai sementara terbentuknya DAS ini tidak terlepas dari struktur dan proses pembetnukannya. Maka dari itu, geologi dan morfologi juga turut menentukan pola.

Dari berbagai macam faktor di atas, entah itu salah satunya atau beberapa diantaranya, dapat membetuk pola aliran. Agar dapat mengetahui suatu pola aliran, dibutuhkan data dari perangkat penginderaan jarak jauh baik itu citra foto dan non foto.

Baca   15 Kerajinan Tanah Liat Dengan Beragam Variasi

Hasil yang lebih terlihat juga dapat diamati dari data foto udara misalnya foto yang diambil dari satelit, pesawat maupun drone.

Macam-Macam Pola Aliran Sungai

Gambar Berbagai Pola Aliran Sungai
Gambar Berbagai Pola Aliran Sungai

Sementara macam-macam pola aliran sungai yang diketahui saat ini antara lain dibedakan menjadi;

1. Pola Dendritis

Pola ini merupakan pola aliran sungai yang memiliki bentuk bercabang-cabang dengan banyak anak sungai kemudian bermuara ke aliran utama yang disebut dengan sungai induk yang emiliki bentuk cenderung tidak teratur.

Bentuk dari cabang anak sungai ini pun beragam diantaranya ada yang memiliki bentuk lancip, tumpul maupun menyiku. Sungai dengan pola aliran sungai dendritis ini bisa dijumpai pada kawasan dengan batuan sedimen.

Beberapa sungai Indonesia juga ada yang memiliki pola tersebut, contohnya adalah sungai dekat lereng Gunung Agung, lereng Gunung Gede, lereng Gunung Merapi, lereng Gunung Lawu, lereng Gunung Slamet, lereng Gunung Rinjani atau di lereng Gunung Arjuna.

2. Pola Pinate

Diketahui pola aliran sungai ini memiliki bentuk yang cenderung lebih rumit (kompleks) dibanding pola aliran sungai dendritis di atas. Pola dari aliran sungai pinate dikenal dari karakteristik anak sungai ataupun cabangnya yang memiliki arah nyaris sejajar dari induk sungai.

Pola dari aliran sungai ini akhirnya memiliki muara di induk sungai yang bentuknya cenderung ber sudut lancip. Sudut lancip dalam pola mencerminkan lereng yang memiliki derajat kecuraman yang tinggi.

Sementara contoh sungai dari pola aliran pinate ini bisa ditemukan pada sungai yang ada di kawasan lereng Gunung Sinabung, lereng Gunung Kerinci.

3. Pola Trellis

Pada aliran trellis adalah pola yang menunjukan letak yang pararel sekunder dan ada di lipatan sinklinal serta antiklinal. Anak sungai maupun cabang di aliran sungai ini akan bersatu namun secara tegak. Struktur morfologi di daerah aliran sungai seperti ini cenderung terletak di lipatan.

Anda dapat melihat pola ini di sungai-sungai yang ada di Bukit Barisan, Pegunungan Ijen, Pegunungan Tengger, Aceh, Lembang, Lampung, Yogyakarta dan di Nusa Tenggara.

4. Pola Barbed

Adapun pola ketiga adalah aliran sungai barbed yang cenderung dapat dilihat di daerah hulu dan terlihat mengalir dengan aliran sempit. Anak sungai ataupun cabang sungai pada pola ini akan bergabung di sungai utama dengan sudut pertemuan yang lancip ke arah hulu. Pola aliran ini bisa terbentuk dari adanya pembajakan arus sungai.

Karakteristik pola aliran sungai yang berbentuk tanduk ataupun gunting yang terbuka ini bisa dijmpai di kawasan Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara.

5. Pola Rectangular

Berikutnya ada pola aliran sungai rectangular. Seperti namanya, aliran ini adalah pola dimana aliran sungai sungai induk dan cabangnya berkelok-kelok dalam sudut yang menyiku (90°). Pola ini terbentuk dikarenakan adanya sistem retakan ataupun sistem patahan di permukaan bumi.

Pola aliran ini bisa ditemukan pada sungai-sungai di kawasan Aceh, Lembang, Lampung, Yogyakarta ataupun Nusa Tenggara.

6. Pola Deranged

Deranged merupakan pola dengan bentuk yang cenderung tidak beraturan dan biasanya terjadi pada danau maupun kawasan rawa-rawa. Pola aliran sungai ini menjadi arus keluar masuk rawa-rawa dan danau. Anak sungai cenderung pendek dan hanya bisa dijumpai pada sekitaran danau ataupun rawa-rawa.

7. Pola Sentripetal (Memusat)

Sentripetal artinya adalah memusat, karena itu aliran sungai ini dapat ditemukan di daerah cekungan kawah dan di area depresi dengan aliran dari kawasan lereng ke arah cekungan.

8. Pola Radial

Pola ini memiliki kenampakan yang menyebar dari daerah puncak gunung ke lereng gunung. Aliran dari sungai ini dapat memuat lahar dingin saat sebuah gunungapi mengalami erupsi. Sungai dengan pola aliran semacam ini bisa ditemukan pada kawasan lereng Gunung Dempo, Gunung Slamet maupun Gunung Rinjani.

9. Pola Sejajar

Pola aliran ini memiliki aliran sungai yang berada tegak lurus dan saling sejajar dan biasanya hanya bisa dijumpai pada kawasan lereng gunung dengan tingkat kecuraman tinggi.

10. Pola Anular (Melingkar)

Pada pola anular atau melingkar, bentuk aliran sungai yang ada di sekitaran struktur kubah sebuah gunung. Pola ini memiliki bentuk cenderung menyerupai sebuah cicin dan biasanya juga hanya bisa ditemukan di daerah lereng gunung yang memiliki tingkat kecuraman tinggi.

Baca   15 Kerajinan dari Kain Flanel yang Bisa Jadi Bisnis

11. Pola Braided (Teranyam)

Jenis pola aliran sungai ini adalah pola aliran yang terbentuk dikarenakan aliran sungai yang terbagi-bagi. Fenomena semacam ini biasnaya dipicu oleh gangguan pada arus sungai misalnya sedimentasi di tengah aliran sungai dimana endapan ini bisa saja dibawa oleh arus sungai sebelumnya.

Daerah Aliran Sungai (DAS)

Gambar Salah Satu DAS Di Jawa, Indonesia
Gambar Salah Satu DAS Di Jawa, Indonesia

Yang dinamakan dengan daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu kawasan yang mana seluruh aliran air di dalamnya berasal dari satu sungai tertentu serta pembuangan airnya juga melalui sungai itu.

Dengan kata lain, DAS juga berfungsi sebagai pengumpul, penyimpan dan penyalur air berikut unsur hara sebuah sungai. Daerah ini kemudian dibedakan berdasar corak dan karakteristik tertentu, diantaranya;

DAS Bentuk Bulu Burung

Daerah ini memiliki bentuk menyerupai bulu burung dengan debit air yang cenderung kecil sebab aliran air dari anak sungai yang masuk ke induk sungainya terjadi secara tidak bersamaan. Saat terjadi banjir, DAS dengan bentuk ini cenderung akan mengalami waktu yang lebih lama untuk surut.

DAS Bentuk Kipas atau Lingkaran (Radial)

Daerah dengan bentuk pola yang menyerupai kipas ataupun lingkaran ini memiliki aliran radial sentrifugal sehingga DAS bentuk ini juga disebut berbentuk radial. DAS bentuk ini cenderung lebih sering mengalami banjir besar pada area yang menjadi pertemuan diantara anak sungai dengan induk sungai.

DAS Bentuk Paralel

Daerah aliran dengan bentuk paralel ini akan memiliki 2 sungai dengan pola aliran paralel dan akan menyatu di bagian hilir. Banjir akan sering terjadi pada aera yang menjadi pertemuan antara kedua aliran tersebut.

Pemanfaatan DAS serta Pelestariannya

Meskipun berbagai macam bentuk DAS di atas memiliki kecenderungan rawan banjir pada area tertentu, namun nyatanya masing-masing memiliki pemanfaatannya sendiri dimana pada dasarnya menjadi tempat yang menampungan curah hujan. Manusia pun dituntut bisa mempertahankan DAS ini dengan baik untuk mencegah terjadinya bencana.

Ketika DAS terawat dengan baik, maka sebagian besar air akan meresap ke dalam tanah dan berubah menjadi air tanah. Jika demikian, maka hanya sebagian kecil saja yang akan menjadi aliran air pada permukaan tanah.

Dan sebaliknya, DAS yang rusak entah itu oleh tanah dan hutan gundul yang tidak direboisasi, maka DAS tidak akan mampu menyerap curah hujan dan akan langsung dialirkan di permukaan sebagai banjir dan sebagainya.

Apabila manusia dapat merawat DAS, akan lebih banyak lagi manfaat yang bisa dirasakan dan bukan sekedar terhindar dari bencana. Aliran sungai yang cenderung stabil di musim hujan, air yang terus mengaliri sungai meski terjadi kemarau berkepanjangan akan sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Sementara DAS yang rusak akan membuat sungai mudah meluap saat hujan, air yang selalu kotor oleh erosi dan sebagainya sehingga tidak ada manfaat yang bisa didapat dari sungai.

Manfaat Das Secara Umum

Manfaat DAS sendiri secara umum dijadikan sebagai cadangan air alami, irigasi daerah pertanian, pariwisata dan transportasi. Beberapa cara yang bisa dilakukan oleh manusia untuk menjaga kelestarian DAS antara lain dengan

  • Menjaga kebersihan aliran sungai dari sampah dan limbah rumah tangga maupun industri
  • Melakukan penghijauan pada area sepanjang DAS, utamanya di bagian hulu

Demikianlah penjelasan tentang sungai dan pola aliran sungai berikut daerah yang ada di sekitarnya. Indonesia yang juga memiliki banyak sungai di setiap pulaunya sejatinya harus dapat memanfaatkan alam sebaik mungkin.

Selain itu, masyarakat juga harus senantiasa menjaga keseimbangan alam agar terhindar dari bahaya bencana yang mungkin mengintai oleh kerusakan alam.

Leave a Comment