Doa Naik Kendaraan Darat, Laut dan Udara

Doa naik kendaraan – Sebagai seorang muslim yang baik, didalam aktifitas sehari – hari, kita dianjurkan untuk selalu berdoa di setiap waktu dan di setiap kegiatan yang akan kita lakukan. Salah satu contohnya saat kita akan menaiki kendaraan, baik di laut, darat maupun udara.

Tujuannya, selain memasrahkan segala sesuatu kepada Allah Subhana wa taala, doa yang kita panjatkan juga sebagai permohonan untuk diberi kemudahan, kelancaran dan keselamatan saat kita menaiki kendaraan tersebut.

Tentunya, sangat penting sekali bagi kita untuk selalu memanjatkan doa apalagi dalam sebuah perjalanan yang sangat rawan terhadap kecelakaan. Doa juga mencerminkan adab kita sebagai hamba yang baik, apalagi jika kita menyadari bahwa segala sesuatu dapat terjadi di tengah perjalanan.

Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita, untuk membaca doa naik kendaraan, saat kita akan menaiki atau mengendarai kendaraan. Tentunya, terdapat manfaat membaca doa naik kendaraan ini.

Pertama, supaya pada saat menaiki kendaraan tersebut, kita dapat terhindar dari marabahaya yang akan menimpa. Kedua, agar kita senantiasa dilindungi oleh Allah Subhana wa taala saat berkendara sehingga kita bisa mencapai di tujuan dengan selamat dan sehat wal afiat.

Sehebat apapun kendaraan yang kita pakai, baik dari teknologi yang diterapkan dan sistem keamanan yang tinggi, tidak menjamin sepenuhnya, kendaraan tersebut akan membuat perjalanan akan selalu selamat.

Anda perlu mengingat beberapa waktu lalu, saat terjadi kecelakaan jatuhnya pesawat terbang meski jika dilihat dari teknologi dengan sistem keamanan yang cukup mumpuni, namun kecelakaan tersebut bisa terjadi, apalagi motor atau mobil yang setiap hari terjadi kecelakaan.

Maka dari itu, berdoa naik kendaraan ini menjadi sebuah keharusan sebagai permohonan pertolongan kepada Allah, Sang Maha Kuasa, sebelum atau ketika menaiki kendaraan.

Doa Naik Kendaraan

Doa Naik Kendaraan Laut, Darat dan Udara
Doa Naik Kendaraan Laut, Darat dan Udara – sumber: rannysuganda.blogspot.com

Doa naik kendaraan ini bisa anda panjatkan ketika sebelum naik atau sesudah ada di dalam kendaraan tersebut. Doa naik kendaraan ini selain menjadi pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, namun juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Rasa syukur ini dapat diwujudkan dalam bentuk ungkapan doa seorang hamba kepada Rabb yang telah memberikan karunia sehingga manusia dapat menikmati semua anugerahNya di muka bumi ini.

Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba yang diketahui paling bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan, beliau memberikan keteladanan bagi umatnya ketika berkendara yaitu salah satunya dengan membaca doa naik kendaraan.

[su_note note_color=”#F9F2E7″]

Doa Naik Kendaraan Laut, Arab dan Latinnya

Doa Naik Kendaraan Laut, Arab dan Latinnya
Doa Naik Kendaraan Laut, Arab dan Latinnya – sumber : wallhere.com

Kendaraan laut jenisnya memang tidak sebanyak seperti kendaraan darat. Namun yang paling sering digunakan oleh masyarakat adalah perahu atau kapal untuk melakukan transportasi air dari satu tempat ke tempat lain.

Kendaraan laut ini juga memiliki risiko untuk tenggelam yang dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah faktor alam. Sehingga, manusia yang menaiki kendaraan laut, sebaiknya sebelum berangkat, diharuskan berdoa kepada Allah Ta’ala Sang Maha Kuasa agar selalu dilindungi.

Berikut, lafadz doa naik kendaraan laut

بِسْمِ اللهِ مَجْرَهَا وَمُرْسَهَآ اِنَّ رَبّىْ لَغَفُوْرٌرَّحِيْمٌ

Bismillaahi majrahaa wa mursaahaa inna robbii laghofuurur rohiim

Artinya : Dengan menyebut nama Allah yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh, sehungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Doa diatas, merupakan doa yang telah dicontohkan oleh Nabi Nuh. Beliau memanjatkan doa ini pada saat mengendarai kapalnya yang diabadikan di dalam Al-Quran Surat Al-Huud ayat 41, yaitu :

وَقَالَ اَرْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya : Dan Nuh berkata “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Hud :41).

Perbedaan orang musyrik zaman dahulu dan sekarang yang tertimpa musibah saat menaiki kendaraan laut

Orang – orang musyrik adalah mereka yang melakukan perbuatan menyekutukan Allah Subhana wa Ta’ala dengan apapun atau mereka yang mempersekutukan Allah dan membuat tandingan hukum / ajaran lain selain dari ajaran / hukum dari Allah Subhana wa Ta’ala.

Orang – orang musyrik ini tidak memohon kepada Allah saat keadaan apapun, termasuk saat mereka sedang menaiki kendaraan laut. Namun ternyata, orang-orang musyrik pada zaman dahulu, berbeda lho dengan orang – orang musyrik zaman sekarang.

Kalau orang – orang musyrik mereka meminta dan memohon kepada Allah Subhana wa taala dengan penuh keikhlasan ketika kondisi genting, yaitu saat diri mereka sedang berkendara.

Bahkan, orang – orang musyrik terdahulu itu, yang tadinya menyekutukan Allah, saat tertimpa musibah akan segera meninggalkan sesembahan mereka demi mengharap pertolongan Allah Ta’ala atas musibah yang menimpa mereka ketika berkendara dilautan.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala :

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الإنْسَانُ كَفُورًا

Artinya : Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya) (QS. Al-Isra: 67).

Nah, seperti inilah keadaan orang – orang musyrik zaman dahulu saat ditimpa kesulitan yaitu saat naik kapal atau perahu ditengah lautan. Mereka mengikhlaskan ibadah hanya pada Allah Subhana wa Ta’ala dan tahu bahwa Allah adalah satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka.

Namun manakala kondisi mereka telah selamat dari marabahaya yaitu sudah selamat sampai daratan, maka mereka pun kembali menyekutukan Allah dengan sesembahan – sesembahan mereka.

Akan tetapi hal ini jauh berbeda sekali dengan keadaan orang – orang musyrik zaman sekarang. Jika orang musyrik dahulu akan mengakui adanya Allah saat ditimpa kesusahan, kalau orang musyrik zaman sekarang keadaannya akan sama saja bagi mereka.

Saat kondisi susah maupun senang, mereka senantiasa melakukan kemusyrikan. Bahkan saat marabahaya menimpa mereka ketika menaiki kapal atau perahu dilautan, mereka malah akan semakin parah melakukan kemusyrikan dengan meminta pertolongan kepada selain Allah Ta’ala.

Dan lebih lagi saat mereka selamat, orang-orang musyrik zaman sekarang itu, akan semakin mengagungkan sesembahan mereka yaitu selain Allah Ta’ala yang mereka yakini, telah menyelematkan mereka.

Hal ini tentunya terjadi akibat dari ketidakpahaman serta kebodohan mereka akan ketauhidan yang mencakup kebanyakan manusia zaman sekarang ini, Naudzubillah himindzalik.

[/su_note]

Doa Naik Kendaraan Darat, Arab dan Latinnya

Doa Naik Kendaraan Darat, Arab dan Latinnya
Doa Naik Kendaraan Darat, Arab dan Latinnya – sumber : jalanberkarisma.files.wordpress.com

Selain kendaraan laut, kendaraan darat adalah jenis kendaraan atau alat transportasi yang sangat sering kita pakai / naiki. Contohnya, jika anda berangkat bekerja anda menggunakan motor, mobil pribadi atau kendaraan umum.

Tentunya sebagai seorang muslim, kita harus bangga terhadap agama Islam, karena didalam agama Islam, telah diajarkan doa – oda pada saat melaksanakan kegiatan atau saat beraktifitas sehari – hari, seperti halnya ketika naik kendaraan darat.

Ketika zaman Rosulullah shallallahu alaihi wa saallam, kendaraan darat yang dipakai beliau untuk berdakwah atau hijarah dari satu tempat ke tempat lain yaitu menggunakan unta dan kuda.

Rosulullah hallallahu alaihi wa saallam telah mengajarkan kita, sebagai ummatnya, untuk membaca doa naik kendaraan jika kita akan menaiki atau mengendarai kendaraan, baik itu naik kendaraan untuk jarak dekat maupun jauh.

Manfaatnya yaitu agar selalu dilindungi oleh Allah hingga kita bisa sampai ditujuan dengan selamat.

Berikut lafadz doa naik kendaraan darat secara umum

سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

Subhaanalladzii sakkhara lanaa hadza wama kunna lahu muqriniin wa-inna ilaa rabbina lamunqalibuun

Artinya : Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. padahal sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya, dan hanya kepada-Mu lah kami akan kembali.

Banyak sekali jenis kendaraan darat yang akan kita gunakan setiap harinya diseluruh aktifitas kita. Jadi, dianjurkan untuk tetap memanjatkan doa naik kendaraan meskipun anda hanya mengendarai sepeda. Karena, sepeda merupakan salah satu kendaraan darat yang juga bisa menyebabkan musibah.

Doa Naik Kendaraan Udara, Arab dan Latinnya

Doa Naik Kendaraan Udara, Arab dan Latinnya
Doa Naik Kendaraan Udara, Arab dan Latinnya – sumber : armenpress.am

Doa naik kendaraan udara ini pada umumnya sama seperti doa naik kendaraan secara umum yaitu yang sudah disebutkan di atas. Karena hingga detik ini, doa khusus untuk kendaraan udara sepertinya tidak ada.

Namun biasanya ketika seorang muslim naik kendaraan udara, memanjatkan lafadz doa naik kendaraan secara umum yaitu :

سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَاكُنَّالَهُ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

Subhaanalladzii sakkhara lanaa hadza wama kunna lahu muqriniin wa-inna ilaa rabbina lamunqalibuun

Artinya : Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. padahal sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya, dan hanya kepada-Mu lah kami akan kembali.

Selain itu, pada dasarnya semua doa naik kendaraan itu sama saja tidak ada perbedaan yang khusus, karena memang doa – doa ini dipanjatkan untuk memohon perlindungan dan kelancaran selama perjalanan kepada Allah Subhana wa Ta’ala.

Apalagi saat kita berada di atas udara, contohnya kita menaiki pesawat terbang untuk bepergian ke tempat yang jauh, maka kita harus benar-benar berserah diri kepada Allah Subhana wa Ta’ala, karena Dia lah yang akan menolong kita.

Tentunya, terjadinya kecelakaan alat transportasi udara, misalnya seperti jatuhnya pesawat terbang dari ketinggal beribu-ribu kaki diatas daratan, jika ada penumpang yang selamat, mustahil jika itu bukan karena pertolongan Allah Subhana wa Ta’ala.

Adab Rosulullah Saat Menaiki Kendaraan yang Patut Ditiru

sumber : tr.haditv.com

Seperti yang anda tahu, bahwa Rosulullah Shallahu Alaihi wa Sallam adalah seorang hamba yang paling bersyukur, dan selalu memberikan keteladanannya bagi ummatnya disetiap aktifitas yang ia lakukan. Salah satu aktifitas yang beliau lakukan adalah berkendara.

Kendaraan yang biasanya digunakan Rosulullah Shallahu Alaihi wa Sallam untuk berkendara yaitu unta dan kuda. Rosulullah memiliki beberapa unta dan kuda, salah satu contoh unta yang dimiliki Rosulullah yaitu unta yang bernama Mahrah dan Asy-Syaqra’, kiriman dari Sa’d bin Ubadah.

Selain itu, ada beberapa juga kuda yang dimiliki oleh Rosulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, salah satunya seperti yang dikatakan oleh Sahl bin Sa’ad as-Saidi yaitu :

“Rasulullah Saw. memiliki 3 ekor kuda yang kupelihara, yaitu: Lizaz, Dharib dan Luhaif. Adapun Lizaz adalah hadiah dari al-Muqaiqis, Luhaif hadiah dari Rabi’ah bin Abi Bara yang dibalas Rasulullah Saw. dengan beberapa baju kulit dari Bani Kilab, dan Dharib adalah hadiah dari Farwah bin Amr al-Judzami.”

Nah, dibawah ini terdapat adab Rosulullah yang patutnya kita tiru dalam berkendara, karena beliau, Rosulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, adalah sebaik-baiknya teladan bagi kita sebagai ummatnya.

1. Berdoa saat Menaiki Kendaraan

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, fungsi dari membaca doa naik kendaraan adalah salah satunya untuk meminta pertolongan dari Allah Subhana wa Ta’ala untuk selalu dilindungi dalam perjalanan dan sehat sampai tujuan. Rosulullah shalallahu alaihi wa sallam mengajarkan ummatnya untuk berdoa :

سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَـهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ .اَلْحَمْدُ لِلََّهِ اَلْحَمْدُ لِله اَلْحَمْدُ لِلََّهِ اَلْحَمْدُ لِله ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ ، سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Artinya :

“Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (pada hari kiamat). Segala puji bagi Allah (3x), Allah Maha Besar (3x), Maha Suci Engkau, ya Allah! Sesungguhnya aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. Kendaraan Dibebani sesuai dengan Daya Angkut

Ketika berkendara, kita diharuskan untuk tidak membebani kendaraan melebihi daya angkut yang ditetapkan oleh perusahaan kendaraan / peraturan yang seharusnya, karena hal ini merupakan suatu bentuk kedzaliman.

Misalnya saja kendaraan motor, yang seharusnya hanya dinaiki oleh 2 orang. Namun, akan menjadi dzolim jika motor tersebut dinaiki hingga 3 orang lebih. Tentunya, kedzoliman terhadap kendaraan ini akan menyebabkan kendaraan rusak dan juga merupakan bentuk penyia-nyiaan harta.

Selain itu, diantara adab berkendara lainnya yaitu diperbolehkan berkendara dengan bersama dengan beberapa penumpang, selama tidak melebihi daya angkut kendaraan tersebut.

Perilaku yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyaitu beliau pernah memboncengkan sebagian sahabatnya seperti Mu’adz, Usamah, Al-Fudhail, begitu juga memboncengkan ‘Abdullah bin Ja’far dan Hasan atau Husain bersama-sama, semoga Allah Ta’ala meridhoi mereka semua.

3. Bertakbir dan Bertasbih saat di dalam Perjalanan

Saat kita diperjalanan, kita dianjurkan untuk selalu bertakbir dan bertasbih kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Hal ini pun sudah dicontohkan oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di sebuah hadits diriwayatkan Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami bertakbir ketika melewati jalan yang naik, dan bertasbih ketika melewati jalan yang turun”. (HR. Al-Bukhari).

Maksud dari hadits diatas yaitu saat kita menaiki tempat yang tinggi / jalanan yang menaik maka mengucapkan “Allahu Akbar” sedangkan saat kita menuruni tempat yang rendah / jalan turunan, maka mengucapkan “SubhanAllah”.

4. Membaca Doa saat Kendaraan Tergelincir

Saat kita terjatuh dari kendaraan, terkadang kita tanpa sadar mengucapkan kata-kata yang tidak semestinya, seperti kata – kata kotor atau mengumpat. Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk mengumpat karena akan disukai oleh syetan.

Rosulullah mengajarkan kepada kita, untuk mengucapkan “Bismillah” ketika kendaraan kita tergelincir. Usamah bin ‘Umair radhiyallahu ‘anhu menceritakan :

Aku pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tunggangannya tergelincir, maka aku berkata, ‘tergelincirlah setan.’ Maka Nabi berkata, ‘Janganlah kamu katakan tergelincirlah setan. Jika kamu berkata demikian, dia (setan) akan membesar hingga sebesar rumah, dan berkata, ‘Dengan kekuatanku.’ Akan tetapi katakanlah, ‘bismillah’. Jika kamu berkata demikian, dia akan mengecil hingga sekecil lalat. ” (HR. Abu Dawud)

5. Larangan Menjadikan Kendaraan hanya untuk duduk-duduk

Pada zaman dahulu, kendaraan yang dipakai untuk perjalanan adalah dari hewan-hewan yang bernyawa dan bukan kendaraan seperti mobil atau motor yang terbuat dari benda-benda yang tidak bernyawa.

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

“Janganlah kalian menjadikan punggung-punggung hewan tunggangan kalian sebagai mimbar (semata-mata sebagai tempat duduk). Sesungguhnya Allah menundukkannya untuk kalian supaya mengantarkan ke negeri yang belum pernah kalian capai kecuali dengan bersusah payah. Dan Allah menciptakan bumi untuk kalian, maka hendaklah kalian tunaikan kebutuhan kalian di atas tanah”. (HR. Abu Dawud).

Nah, maksud dari hadits ini yaitu manusia dilarang untuk hanya sekedar duduk -duduk / berbincang – bincang dalam rangka jual beli dll diatas kendaraannya yang saat itu berupa hewan yang sedang berhenti.

Tentu, hendaknya saat menunaikan kebutuhannya dengan cara turun terlebih dahulu dari kendaraannya baru mengikat kendaraan (hewan) ke tempat yang semestinya. Nah larangan ini pun berlaku sama saja seperti di zaman sekarang.

Jika dulu dilarang karena tunggangannya adalah hewan yang akan merasakan keletihan, kalau sekarang seorang pengendara (motor / mobil) duduk dan berbincang diatas kendaraan yang berhenti, tentunya akan mengganggu serta menyusahkan pengguna jalan lainnya.

6. Meremehkan Kendaraan Orang Lain yang Lebih Rendah

Jika anda sedang menaiki pesawat, jangan meremehkan orang yang menaiki mobil. Jika anda sedang menaiki mobil, jangan remehkan orang yang menaiki motor. Jika anda sedang menaiki motor, jangan remehkan orang yang menaiki sepeda.

Kita sepatutnya bersyukur atas segala keadaan yang ada pada diri kita. Rosulullah Shalallahu alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita, bagaimana cara memperkuat rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita.

Caranya yaitu kita harus selalu memandang orang-orang yang berada dibawah kita dalam akal, nasab / keturunan, harta dan berbagai nikmat lainnya. Rosulullah Shallahu alaihi wa Sallam bersabda :

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أجْدَرُ أنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ الله عَلَيْكُمْ

Artinya :

Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian, dan jangan melihat orang yang di atas kalian. Itu lebih layak untuk kalian agar tidak memandang hina nikmat yang Allah anugerahkan kepada kalian.” (HR. Muslim)

Demikianlah penjelasan singkat mengenai doa naik kendaraan laut, darat dan udara beserta adab Rosulullah Shallahu alaihi wa Sallam yang patut kita tiru sebagai ummatnya. Semoga penjelasan kali ini bermanfaat bagi anda. terima kasih.

 

Leave a Comment